PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Keluarga
Menurut F.J. Brown berpendapat bahwa ditinjau dari sudut pandang sosiologis. Keluarga dapat diartikan dua macam :
a) Dalam arti luas
Keluarga meliputi semua pihak yang ada hubungan darah atau keturunan yang dapat di bandingkan dengan “clan” atau marga.
b) Dalam arti sempit
Keluarga meliputi orang tua dan anak.
Maciver menyebutkan lima ciri khas keluarga yang umum terdapat dimana-mana yaitu
a. Hubungan berpasangan kedua jenis.
b. Perkawinan atau bentuk ikatan lain yang mengokohkan hubungan tersebut.
c. Pengakuan akan keturunan.
d. Kehidupan ekonomis yang diselenggarakan dan dinikmati bersama, dan
e. Kehidupan berumah tangga.
Sudardja adiwikarta (1988 : 66-67) dan Sigelman & Shaffer (1995 : 390-391)
Keluarga adalah unit sosial terkecil yang bersifat universal, artinya terdapat pada setiap masyarakat di dunia (universe) atau suatu sistem sosial yang terpancang (terbentuk) dalam sistem sosial yang lebih besar.
2.2 Pentingnya Peran Lingkungan Keluarga dalam Perkembangan Anak
Sejak lama, keluarga sudah dikenal sebagai lingkungan pendidikan yang pertama dan utama. Predikat ini mengindikasikan bahwa betapa pentingnya peran dan pengaruh lingkungan keluarga dalam pembentukan perilaku dan kepribadian anak.
Pandangan yang sangat menghargai posisi dan peran keluarga sebenarnya bukan merupakan sesuatu yang istimewa. Pandangan seperti ini sangat logis dan mudah dipahami Karena beberapa alasan berikut ini:
Pertama, keluarga lajimnya merupakan pihak yang paling awal memberikan banyak perlakuan kepada anak. Begitu anak lahir, lazimnya pihak keluargalah yang langsung menyambut dan memberikan layanan interaktif kepada anak. Hal ini diwujudkan dalam bentuk perilaku menyusui, menyayangi,melindungi dan berbagai bentuk lainnya.
Kedua, sebagaian besar waktu anak lajimnya dihabiskan di lingkungan keluarga. Kalau disekolah anak menghabiskan waktu sekitar 5-6 jam, maka di rumah anak bisa menghabiskan waktu sekitar dua kali lipat atau lebih dari itu. Besarnya peluang dan kesempatan interaksi ini akan sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan anak.
Ketiga, karakteristik hubungan orangtua-anak berbeda dari hubungan anak dengan pihak-pihak lainnya (guru, teman, dan sebagainya). Kepada orangtua, disamping anak memiliki ketergantungan secara materi, ia juga memiliki ikatan psikologis tertentu sejak dalam kandungan sudah dibangun melalui jalinan kasih sayang dan pengaruh-pengaruh normative tertentu. Kualitas hubungan psikologis ini tidak dimiliki anak dalam berhubungan dengan orang lain, termasuk dengan guru di sekolah.
Keempat, interaksi kehidupan orangtua-anak di rumah bersifat “asli”, seadanya dan tidak dibuat-buat. Contohnya disaat di dalam kelas, sangat mungkin bagi seorang guru untuk berbicara yang baik-baik karena terikat oleh posisinya sebagai pendidik. Tapi disaat di rumah, semua hal yang mengikat dan bersifat formalitas seperti itu tidak ada lagi. Perilaku yang ditampilkan adalah perilaku yang wajar dan tidak di buat-buat. Perilaku orangtua “asli” inilah cenderung akan menjadi “nasihat” paling bermakna bagi anak daripada nasihat kata-kata dan bentuk-bentuk nasihat formal lainnya.
Dalam prakteknya, bagaimanapun pengaruh keluarga itu akan bervariasi. Hal itu tergantung kepada bentuk, kualitas, dan intensitas perlakuan yang terjadi, disamping tergantung pula kepada kondisi anak sendiri. Walaupun ada semacam prinsip-prinsip umum yang dapat dijadikan bahan rujukan oleh orangtua dalam memperlakukan anak, unsur keunikan anak tetap merupakan hal yang tidak dapat diabaikan.
2.3 Pengaruh Keluarga terhadap Perkembangan Anak
Tampaknya sangat sulit untuk memilah-milah perilaku-perilaku apa yang secara khusus dipengaruhi oleh lingkungan keluarga dan perilaku-perilaku apa yang dipengaruhi oleh lingkungan-lingkungan lainnya. Secara teoritis, kita bisa saja merumuskan formulasi matematis untuk menghitung bobot pengaruh dari setiap lingkungan tersebut. Namun secara praktis, kita akan sangat sulit untuk mencari angka-angka nyata yang diperlukan untuk mengisi formulasi matematis tersebut.
Namun demikian, bila dilihat dari proses dan materi interaksi yang terjadi pada masing-masing lingkungan, secara logis dapat diperkirakan perilaku-perilaku apa yang terutama dipengaruhi oleh pengaruh lingkungan tertentu. Dalam hal perkembangan kognisi anak, misalnya, lingkungan sekolah akan cenderung lebih banyak memberikan pengaruh langsung daripada lingkungan keluarga. Peran keluarga lebih banyak bersifat memberikan dukungan baik dalam penyediaan fasilitas maupun penciptaan suasana belajar yang kondusif. Sebaliknya, dalam hal pembentukan perilaku, sikap dan kebiasaan, penanaman nilai, dan perilaku-perilaku sejenisnya, lingkungan keluarga bisa memberikan pengaruh yang sangat dominan. Disini lingkungan keluarga dapat memberikan pengaruh kuat dan sifatnya langsung. Berkenaan dengan pengembangan dengan pengembangan aspek-aspek perilaku seperti itu, keluarga dapat berfungsi langsung sebagai lingkungan kehidupan nyata untuk memperaktekkan aspek-aspek perilaku tersebut. Karena itu tdaklah mengherankan kalau undang-undang system pendidikan Nasional No.2/1989 menyatakan secara jelas bahwa keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai-nilai moral, dan keterampilan.
Selanjutnya , Radin (Seifert & Hoffnung, 1991) menjelaskan enam kemungkinan cara yang dilakukan orangtua dalam mempengaruhi anak, yakni sebagai berikut ini:
1. Pemodelan perilaku (modeling of behaviors)
Baik disengaja atau tidak orangtua dengan sendirinya akan menjadi model bagi anaknya. Cara dan gaya orangtua berperilaku akan menjadi sumber objek imitasi bagi anak. Tidak hanya yang baik-baik saja yang diterma oleh anak, tapi sifat-sifat yang jeleknya pun akan dilihat pula. Jika orangtua biasa berperilaku kasar dalam berinteraksi di lingkungan rumahnya (berbicara kasar, marah-marah secara berlebihan, menggunakan hukuman fisik, dan sejenisnya), maka kecenderungan anak-anaknya untuk akan berperilaku dan bertutur kata lemah lembut hingga hamper tidak pernah ada marah-marah dan kekerasan, maka anak-anaknya juga akan kecenderungan berperilaku demikan.
2. Memberikan ganjaran dan hukuman (giving rewards and punishments).
Orangtua mempengaruhi anaknya dengan cara memberi ganjaran terhadap perilaku tertentu yang dilakukan oleh anaknya dan member hukuman terhadap beberapa perilaku lainnya. Seorang anak yang mendapat ranking satu, misalnya, mendapat pujian dari orangtuanya; sementara anak yang tidak pernah belajar mendapat teguran dari orangtuanya.
3. Perintah langsung (direct instruction).
Kadang-kadang orangtua secara sederhana mengatakan kepada anak seperti berikut : “jangan malas belajar!”, cepat mandi, nanti sekolahnya kesiangan!”. Dari perintah-perintah seperti ini, anak sering mengambil pelajaran tertentu sehingga bisa lebih memahami harapan-harapan dan keinginan-keinginan orangtuanya.
4. Menyatakan peraturan-peraturan (stating rules)
Secara berulang-ulang orangtua sering menyatakan peraturan-peraturan umum yang berlaku dirumah, meskipun hal itu sering dinyatakan secara tidak tertulis. Sebagai misal, orangtua berkata : “kalau sudah dari kamar kecil tutup pintunya dan matikan listriknya”. Dengan cara ini, anak didorong umtuk , melihat perilakunya apakah sudah benar atau belum melalui perbandingan dengan peraturan-peraturan tersebut.
5. Nalar (reasoning).
Pada saat-saat menjengkelkan, orangtua bisa mempertanyakan kapasitas anak untuk bernalar, dan cara itu digunakan orangtua untuk mempengaruhi anaknya. Sebagai contoh, orangtua bisa mengingatkan anaknya tentang kesenjangan perilaku dengan nilai-nilai yang dianut melalui pertanyaan berikut: “apakah memukul teman itu merupakan pekerjaan yang baik?”. Atau orangtua bisa mendefinisikan dan memberikan label terhadap aktivitas-aktivitas anak dalam cara-cara yang dianggap mempengaruhi perilakunya, seperti : “sekarang rangking kamu jelek karena kamu malas belajar, dan bukan karena kamu bodoh.”
6. Menyediakan fasilitas atau bahan-bahan dan adegan suasana (providing materials and settings)
Orangtua dapat mempengaruhi perilaku anak dengan mengontrol fasilitas atau bahan-bahan dan adegan suasana. Misalnya, untuk menciptakan suasana yang menumbuhkan minat belajar anak, orangtua membelikan buku-buku yang diminati anak daripada membelikan pistol-pistolan.
Perlu dicatat bahwa enam cara diatas tidak benar-benar khusus milik orangtua. Guru dan teman-teman anak juga menggunakan cara-cara tersebut. karena itu bagaimana hubungan orangtua itu berbeda dari guru dan/atau orang lainnya bukan hanya terletak pada cara mempengaruhi anak tetapi juga tergantung kepada bagaimana orangtua dan anak memandang hubungan itu. Disinilah pentingnya ada kesamaan persepsi (shared perception) antara orangtua dan anak tentang hubungan yang berlangsung.
Sebagai misal, karena begitu sayangnya terhadap anak, ada orangtua yang berupaya mendidik anaknya dengan sangat ketat dank keras. Ia tidak mau kalau anaknya nanti menjadi orang yang tidak berhasil dalam hidupnya. Disaat ditanya mengapa ia memperlakukan anaknya seperti itu, a menjawab: “karena saya sayang sama anak saya dan saya harus mendidiknya dengan benar.
Berbeda dengan persepsi orangtuanya di atas, anaknya malah menilai orangtuanya sebagai orang yang tidak sayang kepadanya. Lebih parah lagi, ia menilai orangtuanya sebagai orangtua jahat dan berlaku pilih kasih.
2.4 Kualitas Hubungan orangtua dan anak
Seiring dengan perubahan-perubahan yang dialami anak usia SD, pola dan bentuk hubungan orangtua-anak mengalami perubahan. Perlakuan orangtua lazimnya semakin member kesempatan kepada anak untuk berbuat secara lebih mandiri.
Di saat anak masih bayi atau baru bisa berjalan, orangtua (pengasuh) akan selalu memperhatikan, mengawasi, bahkan mengikiti kemana saja anak pergi. Orangtua selalu menjaga agar anaknya terhindar dari berbagai kemungkinan yang dapat membahayakan anaknya. Alat-alat mainan juga selalu dipilihkan oleh orangtua. Begitu pula orangtua selalu memberikan bantuan langsung dalam hal makan, berpakaian, termasuk buang air dan sejenisnya. Pendeknya, dominasi dan bantuan langsung pihak orangtua sangat menonjol pada usia ini.
Pada masa usia kanak-kanak (pendidikan prasekolah), pengawasan orangtua terhadap anak menjadi lebih berkurang. Kecuali memainkan benda-benda yang dianggap membahayakan seperti pisau dan gunting, orangtua biasanya sudah lebih banyak memberikan keleluasaan kepada anak. Dalam hal makan, misalnya, orangtua hanya membantu disaat anak makan makanan pokok seperti nasi; sedangkan dalam hal makan makanan ringan, anak sudah dibiarkan lebih banyak makan sendiri. Dalam hal berpakaian dan buang air besar, masih banyak orangtua yang memberikan bantuan langsung kepada anak, walaupun beberapa diantaranya ada juga yang sudah mulai melatih anaknya untuk dapat makan dan buang air sendiri. Pada masa ini. Intervensi dan bantuan langsung orangtua mungkin masih banyak dilakukan, meskipun “treatment” dalam bentuk komentar terhadap perilaku anak juga sudah mulai diterapkan. Pada tahap ini lazimnya senang bepergian bersama orangtua. Kemana saja orangtua pergi, kecuali ke tempat kerja, biasanya anak hamper selalu ingin mengikutinya.
Pada saat anak memasuki SD, berbagai kemampuan dan keterampilan lebih banyak lagi dikuasai oleh anak. Sekarang, anak lajimnya sudah dapat makan, buang air, dan berpakaian sendiri. Selain itu, ia juga mulai menampakkan minat-minat dan acara kegiatannya sendiri yang kadang-kadang tidak terikat lagi dengan acara orangtua. Sebagai misal, disaat seorang ibu mengajak main anaknya (berusia sekitar 7 tahun) ke suatu tempat rekreasinya itu kurang menarik bila dibanding dengan menonton acara kegemarannya di TV, maka ia memilih nonton TV dirumah daripada ikut ibunya berekreasi.
2.5 Gaya Pengasuhan Orangtua dan Pengaruhnya terhadap perkembangan anak | |
Gaya pengasuhan orangtua (parenting style) adalah cara-cara orangtua berinteraksi secara umum dengan anknya. Dalam hal ini banyak macam klasifikasi yang dapat dilakukan, salah satu nya adalah klasifikasi berikut: otoriter, permisif, dan otoritatif (Bjorklund & Bjorklund, 1992; Crocks & Stein, 1991).
Orang tua yang bergaya otoriter (authorian) berupaya menerapkan seperangkat peraturan kepada anaknya secara ketat dan sepihak. Ia menuntut ketaatan penuh kepada anaknyatampa memberi kesempatan untuk berdialog. Ia sangat dominan dalam mengawasi dan mengendalikan anaknya. Ia juga lebih senang menggunakan hukuman dalam menerapkan peraturan daripada menerapkan pendekatan dialog dan kehangatan hubungan.
Kebalikan dari gaya orang tua otoriter adalah gaya permisif (permissive). Orangtua bergaya permisif cendering memberikan banyak kebebasan kepada anaknya dan kurang memberikan kontrol. Ia sedikit memberikan bimbingan, arahan, dan masukan kepada anaknya. Bila anaknya berbuat salah, ia cenderung lebih banyak membiarkan anak tersebut daripada menghukumnya atau menasehatinya. Dalam hal jalinan hubungan dengan anak, orangtua permisif cenderung memiliki kehangatan, meskipun ada juga beberapa diantaranya yang cenderung sebaliknya.
Seperti halnya orangtua otoriter, orang otoritatif juga memiliki seperangkat standar dan peraturannya yang jelas. Ia juga menuntut anaknya untuk memenuhi peraturan-peraturan tersebut. Perbedaannya adalah orangtua gaya ini berupaya menerapkan peraturan tersebut melalui pemahaman bukan dengan paksaan. Orangtua otoritatif berupaya menyampaikan peraturan-peraturan tersebut dengan disertai penjelasan yang dapat dimengerti. Anak juga diberi kesempatan untuk berfikir dan berdialog membicarakan alasan-alasan yang ada dibalik perintah atau peraturan yang disampaikan oleh orangtua tersebut. Dengan demikian, si anak merasakan bahwa pandangannya memiliki bobot tertentu dalam peraturan atau keputusan yang diterapkan. Dalam hal kontrol terhadap anak, orangtua otoritatif juga melakukannya. Namun kontrolnya dilakukan dengan menerapkan peraturan-peraturan yang dapat dimengerti dalam suasana hubungan yang hangat dan dialog yang terbuka.
Hasil penelitian beberapa ahli (Bjorklunk & Bjorklunk, 1992; Croak & Stein, 1991) menunjukan bukti yang meyakinkan bahwa gaya-gaya pengasuhan orangtua tersebut memberikan pengaruh tertentu terhadap pembentukan prilaku dan pribadi anak. Orangtua yang permisif tidak kondusif bagi pengembangan kompetensi sosial dan emosional anak. Anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga-keluarga yang permisif menunjukan kecenderungan prilaku yang tidak matang, bersifat impulsif, tergantung pada orang lain, dan memiliki harga diri yang rendah. Mereka juga sering bimbang dalam menghadapi situasi-situasi baru.
Anak-anak dari keluarga otoriter juga menunjukan beberapa kesulitan tertentu dalam berprilaku. Mereka yang dibesarkan dalam keluarga otoriter cenderung kurang memperlihatkan rasa ingin tahu (coriosity) dan emosi-emosi yang positif serta cenderung kurang bisa bergaul.
Anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga otoritatif memperlihatkan kemampuan penyesuaian diri yang lebih baik. Anak-anak dari keluarga ini cenderung memiliki rasa kendali diri yang kuat. Mereka juga cenderung mandiri dan lebih dapat diterima oleh teman serta memiliki keinginan kuat untuk melakukan eksplorasi.
Bjorklund & Bjorklund (1992) akhirnya menyimpulkan karakteristik dari tiga gaya pengasuhan orangtua tersebut beserta pengaruhnya terhadap prilaku anak seperti tertera pada tabel berikut
TABEL 4
GAYA PENGASUHAN ORANGTUA
Tipe | Perilaku orangtua | Karakteristik anak |
Otoriter Permisif Otoritatif | Kontrol yang ketat dan penilaian yang kritis terhadap prilaku anak; sedikit dialog (memberi dan menerima) secara verbal; serta, kurang hangat dan kurang terjalin secara emosional. Tidak mengontrol; tidak menuntut; sedikit menerapkan hukuman atau kekuasaan; penggunaan nalar; hangat dan menerima. Mengontrol; menuntut; hangat; reseptif;, rasional; berdialog (memberi dan menerima) secara verbal; serta menghargai disiplin, kepercayaan diri, dan keunikan. | Menarik diri dari pergaulan serta tidak puas dan tidak percaya terhadap orang lain. Kurang dalam harga diri, kendali diri, dan kecenderungan untuk bereksplorasi. Mandiri; bertanggung jawab secara sosial, memiliki kendali diri, bersifat eksploratif, dan percaya diri. |
2.6 Persoalan Keluarga dan pengaruhnya terhadap perkembangan anak |
Dinamika yang terus berkembang membawa konsekuensi-konsekuensi tertentu terhadap kehidupan keluarga. Banyaknya tuntutan kehidupan yang menerpa keluarga serta bergesernya nilia-nilai dan pandangan tentang fungsi dan peran anggota keluarga menyebabkan terjadinya berbagai perubahan mendasar tentang kehidupan keluarga. Struktur, pola hubungan, dan gaya hidup keluarga banyak mengalami perubahan. Kalau dahulu biasanya ayah berperan sebagai pencari nafkah tungggal dan ibu sebagai pengelola utama kehidupan dirumah, maka sekarang banyak diantara keluarga (khususnya di kota-kota) yang tidak lagi seperti itu. Begitu pula kebiasaan hidup lama dalam keluarga besar dengan banyak saudara yang disertai kakek/nenek dan bertetangga dengan familli dekat, maka sekarang banyak di antara keluarga yang kondisinya sudah menjadi sangat lain. Sekarang mereka hidup dalam keluarga-keluarga kecil tanpa nenek/kakek dengan lingkungan tetangga yang sama-sama sibuk dan bukan saudara lagi.
Terlepas dari bentuk dan wujud perubahan-perubahan yang terjadi, pergeseran-pergeseran tersebut membuat semakin kompleksnya permasalahan-permasalahan yang dialami keluarga yang pada gilirannya akan memberikan dampak tertentu terhadap perkembangan anak. Untuk dapat berkembang secara sehat dan sejalan dengan nilai-nilai yang dianut masyarakat, dengan sendirinya anak perlu melakukan penyesuaian.
Ragam dan jenis permasalahan keluaarga tentunya sangat banyak. Namun karena keterbatasan yang ada, bahasan ini hanya akan menguraikan dua permasalah utama keluarga yang lajim dialami, yakni masalah orangtua yang bekerja dan perceraian.
1. Orangtua yang bekerja
Disamping adanya tuntutan ekonomi (bagi sebagian keluarga), pergeseran pandangan tentang peran wanita telah mendorong banyak ibu rumah tangga sekarang yang turut bekerja mencari nafkah. Secara finansial, kondisi yang dmikian jelas lebih menguntungkan dan tak perlu dipersoalkan. Namun, hal tersebut menarik untuk dibahas dalam kaitannya dengan kepentingan pendidikan dan perkembangan anak.
Sejak lama, tuntutan kultural dan norma tertentu menetapkan pihak ayah sebagai pencari nafkah bagi keluarga. Karena itu, ayah yang bekerja mencari nafkah jarang atau mungkin tidak pernah dipersoalkan. Yang dipersoalkan malah justru sebaliknya, yakni bila ayah tidak bekerja.
Ayah yang tidak bekerja akan menimbulkan masalah-masalah yang sangat serius bagi keluarga. Studi-studi tentang para ayah yang tidak bekerja (dalm Seifert & Hoffnung, 1991) menunjukan bahwa mereka merasa sangat stress, cemas, berpikiran kacau, depresi, serta mengalami penyakit susah tidur atau kronik. Mereka cenderung mudah tersinggung dan berlaku kasar baik terhadap istri maupun terhadap anak-anak mereka.
Pada saat yang sama, ibu (istri) dan anak-anak juga lajimnya ikut cemas tentang masa depan ekonomi keluarga sehingga semua anggota keluarga juga ikut gelisah. Pada diri mereka juga kadang-kadang timbul sikap-sikap negatif terhadap si ayah. Ibu menjadi kesal dan jengkel melihat ayah yang hanya luntang-lantung, begitu juga anak-anak kehilangan figur ayah yang dapat dibanggakan. Lebih jauh lagi, kondisi tersebut bisa menyebabkan kurangnya kebanggaan anggota keluarga terhadap keluarganya sendiri, terutama disaat bercerita dengan tetangga, teman, atau dengan anggota masyarakat yang lainnya.
Sementara itu, ayah yang bekerja lajimnya lebih memperlihatkan rasa harga diri kestabilan emosi, harapan, dan keceriaan. Keluarga juga lajimnya ikut bangga dan tenang, terlebih-lebih kondisi pekerjaan si ayah menjamin kehidupan keluarga secara memadai.
Berbeda penilaian terhadap ayah, ibu yang kadang-kadang masih dipersoalkan bagi sebagian orang. Mereka yang berkeberatan ibu bekerja lajimnya menganggap bahwa fungsi utama ibu adalah mengurus rumah tangga supaya pendidikan anak tidak terlantar.
Namun demikian, ibu yang bekerja maupun yang tidak sebenarnya masing-masing memiliki potensi untuk memberikan dampak positif dan negatif terhadap kehidupan keluarga, khususnya berkenaan dengan kepentingan pendidikan dan perkembangan anak.
Keuntungan dari ibu yang tidak bekerja adalah ia memiliki banyak waktu untuk mengurus rumah tangganya. Ia memiliki kesempatan yang lebih banyak untuk memperhatikan dan merawat anaknya secara langsung. Sentuhan kasih sayang ibu yang lajimnya tidak dimiliki oleh para oengasuh lainnyaa juga dapat lebih tercurahkan kepada anak.
Perlakuan ibu seperti di atas banyak memiliki dampak positif terhadap anak, seperti terawatnya kesehatan anak secara lebih baik, terkontrolnya peristiwa-peristiwa yang terjadi pada anak (seperti bila anak jatuh) sehinggan bisa langsung memberikan perawatan dan pengobatan segera, serta terjalinnya ikatan kasih sayang ibu-anak. Namun, perlu dicatat bahwa hal tersebut bisa terjadi demikian kalau si ibu menjalankan fungsi keibuannya secara tepat. Seorang ibu akan bisa berprilaku seperti itu kalau yang bersangkutan memiliki pemahaman yang tepat tentang peran dan fungsi ibu disamping memiliki sifat-sifat keibuan yang mendukung seperti sabar, telaten, bertanggung jawab dan sejenisnya.
Ibu yang tidak bekerja juga dimungkunkan untuk mengalami dan memunculkan persoalan-persoalan keluarga. Karena pergeseran norma, ibu yang tidak bekerja sekarang kadang-kadang kurang memiliki rasa harga diri dan meras kurang bermakna. Kadang-kadang mereka merasa hanya menjadi beban dan kurang memberi kontribusi yang berarti terthadap keluarga. Di antara ibu yang tidak bekerja juga kadang-kadang meras kesepian, terutama bila anak-anaknya sudah agak besar dan bersekolah. Kesepian dan kekosongan waktu ini kadang-kadang dapat mendorong sebagian ibu rumah tangga (khususnya yang berkecukupan secara materi) untuk melakukan hal-hal yang kurang produktif seperti berprilaku konsumtif (senang berbelanja), senang membicarakan gosip dan isu dengan tetangga, buang-buang waktu dengan pesawat interkom, dan sebagainya. Prilaku-prilaku yang kurang produktif tersebut mencerminkan figur ibu yang kurang baik di mata anak.
Dalam kasus ibu yang bekerja, jenis dan bentuk persoalannya menjadi lain. Bagaimanapun, pekerjaan yang menuntut sebagian waktu dan tenaga yang dimiliki ibu sehingga porsi waktu dan tenaga untuk keluarga menjadi berkurang. Bagi ibu yang tidak bisa mengatur waktu dan tenaganya secara proposional, hal tersebut dapat membuat tidak terkontrolnya lagi kondisi rumah dan prilaku anak-anaknya. Anak-anak bisa merasa tidak diperhatikan dan kurang kasih sayang sehingga prilakunya mungkin menjadi liar. Kesehatan anak mungkin kurang terawat dan begitu pula proses perkembangannya bisa mengalami banyak hambatan. Permasalahan-permasalahan tersebut sangat mungkin terjadi bila pengasuh atau pembantu rumah tangga yang dipercayai menjaga dan mengurus anak tidak menjalankan tugasnya dengan baik.
Disamping kemungkinan-kemungkinan negatif yang dapat ditimbulkan oleh ibu yang bekerja, dampak-dampak positifnya pun ternyata banyak juga. Penelitian Hoffman (Seifert & Hoffnung, 1991) bahkan menunjukan bahwa ibu yang bekerja biasanya tidak menyebabkan anaknya mengalami bahaya perkembangan; bahkan kebanyakan pengaruhnya adalah positif atau sekurang-kurangnya tidak negatif.
Kalau di analisis lebih lanjut, memang ada beberapa kemungkinan aspek positif yang muncul pada anak karena ibu bekerja. Pertama, ibu yang bekerja dapat menambah penghasilan sehingga hidup keluarga lebih terjamin secara materi. Hal ini tentunya berdampak langsung terhadap penyadiaan kelengkapan fasilitas hidup dan belajar anak. Kedua, ibu yang bekerja lazimnya memiliki rasa harga diri yang tinggi sehingga mereka merasa bahagia. Kebahagiaan ini dapat dipengaruhi kehangatan perilaku interaktif ibu dengan anak-anaknya. Ketiga, anak yang dibesarkan dalam keluarga yang ibunya bekerja cenderung lebih cepat matang dan mandiri. Kesibukan ayahh dan ibu menuntut anak untuk segera berperan dalam mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah seperti mengurus pekerjaanya sendiri, mengasuh adik, dan sejenisnya. Keempat, pembauran pekerjaaan rumah dan pencarianan nafkah dapat menumbuhkan sikap yang tidak stereotip pada anak tentang peran ibu dan ayah. Anak-anak dapat merasakan prilaku pengasuhan ayah dan menyaksikan kompetensi kerja yang di perlihatkan oleh ibu. Hal ini membuat wawasan karir anak menjadi luas, tidak sekedar memandang ayah sebagai pencari nafkah dan ibu sebagai pengelola rumah tangga.
Dengan seperangkat sisi positif yang dapat diperoleh, disamping juga tuntutan ekonomi, trend kebanyakan ibu-ibu sekarang memilih bekerja dari pada tidak bekerja. Hal ini tidak saja untuk lebih menjamin perekonomian keluarga, tetapi juga untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan psikologinya seperti ketenangan, harga diri, mengisi kekosongan waktu, keinginan berprestasi, dan sejenisnya.
Dalam mempertimbangkan tred ini, Seifert dan Hoffnung ( 1991 ) mengingatkan akan dua hal. Pertama, ibu yang bekerja biasanya berbeda dengan ibu yang tidak bekerja baik dalam kondisi keluarga maupun dalam kepribadian. Penelitian Hoffman menunjukan bahwa ibu yang bekerja cenderung memiliki anak yang lebih sedikit daripada ibu yang tidak bekerja. perbedaan ini diasumsikan membantu mereduksi jumlah perawatan anak dan tugas rumah tangga pada ibu yang bekerja. Di sisi lain, ibu yang bekerja memiliki pengalaman perceraian yang lebih sering dan memiliki kebutuhan yang lebih mendesak secara finansial. Keadaan ini menjelaskan tidak hanya mengapa ibu pergi bekerja tetapi juga mengapa pekerjaan dapat menimbulkan kesulitan banyak wanita dan keluarga mereka. Dalam hal ini pekerjaan sendiri bukan merupakan inti masalah, tetapi yang paling pokok adalah pengaturan waktu kerjanya yang kurang proposional dengan kepentingan rumah tangga.
Kedua, dewasa ini ibu yang bekerja sangat lajim. Tred ini sebagian diakibatkan oleh perubahan peran seks dan sebagian karna tuntutan ekonomi. Kemajuan-kemajun teknologi kerumahtanggaan membuat pekerjaan-pekerjaan rumah tangga semakin efisien. Pada saat yang sama, banyak produk-produk makanan di luar yang sudah siap di santap atau mudah di hidangkan sehingga lebih efisien dari pada memasak sediri.karena kondisi-kondisi seperti ini, akhirnya bekerja menjadi pilihan yang lebih memungkinkan bagi ibu di banding dengan yang hanya di rumah.
Satu hal yang perlu di catat adalah bahwa ibu yang bekerja lajimnya adalah orang-orang yang berpendidikan. Latar balakang pendidikan ibu ini diasumsikan dapat menjadi salah satu faktor yang mendukung keberhasilan seorang ibu dalam membina rumah tangga, meski tidak selalu. Karna faktor pendidikan ini, mereka bisa menjadi ibu yang lebih terampil dan cekatan sehingga dapat memanfaatkan waktu seefektif mungkin. Kalaupun secara frekuensi dan lamanya waktu bertemu dengan anak lebih minim, tapi intensitas dan kualitas pertemuan mereka dengan anaknya lebih bisa bermakna.
Akhinya perlu digarisbawahi bahwa kita tidak bisa menyimpulkan begitu saja bahwa ibu yang bekerja lebih berhasil dalam mendidik anak dari pada ibu yang tidak bekerja atau sebaliknya. Keduanya sama-sama memiliki potensi untuk berhasil dan memiliki peluang untuk beresiko. Yang penting adalah bagaimana ibu, ayah, dan anak saling menyesuaikan diri sehingga betapapun sibuknya mereka, jalinan psikologis di antra merka tetap terbina.
2. Orangtua yang bercerai
Walaupun perceraian itu tidak diharapkan, sebagian keluarga mengalaminya juga. Tentunya banyak faktor dan alasan yang bisa “memaksa” pasangan dalam sebuah keluarga untuk bercerai. Namun, pada intinya hal itu disebabkan oleh ketidaksesuaian atau perselisihan yang tiidak bisa didamaikan lagi.
Terlepas dari faktor dan alasan yang menyababkan sebuah keluaga bercerai, peristiwa perceraian dapat mengakibatkan konsekuensi-konsekuensi serius terhadap keluarga yang pada gilirannya akan mempengaruhi peerkembangan prilaku anak. Bukan hanya ikatan perkawinan yang menjadi berantakan, tetapi anak yang tidak berdosa juga bisa manjadi korban.
Perceraian orang tua dapat merupakan suatu peristiwa yang dapat menimbulkan shock dan konflik berat bagi anggota keluarganya, termasuk anak . perceraian melahirkan perubahan-perubahan drastis yang bias membingungkan dan memunculkan berbagai konflik baik bagi orangtua maupun anak. Orangtua yang cerai perlu melakukan banyak penyesuaian terhadap situasi kehidupannya yang baru, dan ini bisa sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak.
Salah satu persoalan yang mungkin dialami oleh sebagian keluarga yang bercerai adalah tekanan ekonomi. Kalau dahulu keluarga yang dibiyai hanya satu rumah, maka sekarang menjadi dua rumah, yakni rumah tangga ayahnya dan rumah tangga ibunya besrta anak-anaknya. Si ayah yang dulunya biasa makan dirumah, sekarang mungkin lebih banyak makan diluar rumah sehingga penggunaan keuangan juga menjadi lebih boros. Kelau kedua-duanya sudah menikah lagi, jumlah warga bisa bertambah, yakni pasangan yang dulu dengan anak-anaknya, dan pasangan baru dengan anak-anaknya juga. Masalah ekonomi ini membawa konsekuensi-konsekuensi baru bagi keluarga, seperti menurunnya kesejahteraan keluarga, ibu dituntut untuk bekerja , dilingkungan kehidupan yang mungkin lebih jelek dan sejenisnya. Persoalan lain yang muncul adalah dialaminya tekanan-tekanan psikologis. Dengan bercerai , sekarang orang tua harus mengatur dan mengurus keluarga sendirian. Ia mungkin harus mengerjakan hampir segenap pekerjaan rumah tangga yang sebelumnya tidak dilakukan.kadang-kadang orang tua menjadi sibuk tidak menentu dan kondisi lingkungan rumah menjadi semrawut.
Beberapa orang tua yang bercerai juga kadang-kadang merasa sangat terisolasi dari teman-temannya yang biasanya dekat dengan mereka. Sebutan duda atau janda yang kadang-kadang berkonotasi jelek dilingkungan tertentu juga mendorong orang tua untuk semakin menarik diri dari pergaulan yang wajar.
Para orang tua yang bercerai juga sering dihantui dengan rasa stress tentang perkawinannya. Mereka kadang-kadang menyesali peristiwa itu, tapi tak dapat berbuat banyak dalam menghadapinya. Emosi mereka kadang-kadang tidak stabil, mudah marah, diliputi kesedihan , tidak ringan dan sebagainya.
Berbagai persoalan yang dialami para orangtua di atas, pada akhirnya terekspresikan di saat berinteraksi dengan anak. Mereka mungkin mengisolasi diri secara emosional dari anak, mudah marah dan berperilaku agresif terhadap anak, berupaya mempengaruhi anak supaya lebih dekat dengan diri mereka daripada dengan bekas pasangan mereka, kurang bisa merawat dan memperhatikan sebagaimana layaknya, dan sejumlah persoalan lainnya. Pendeknya, mereka tidak mampu lagi menjalankan tugas-tugas kedua orangtuanya secara efektif.
Lebih parah lagi , apa yang di ekspresikan oleh orangtua tersebut dapat berdampak langsung terhadap anak disamping sekaligus menjadi model tentang ketidakmampuan orangtua dalam menghadapi masalah-masalah sosial sebagaimana orangtua, anak juga mengalami berbagai tekanan psikologis. Mereka mungkin merasa tidak terperhatikan lagi , kesepian dan terisolasi, mengalami konflik apakah harus sayang dan ikut kepada ibu atau kepada ayah. Begitu pula berbagai penyesuaian sosial juga harus dilakukan oleh anak, seperti menyesuaikan diri dengan ibu / ayah barunya.
Singkatnya, perceraian itu dapat mengakibatkan berbagai tekanan psikologis terhadap seluruh anggota keluarga. Baik terhadap orangtua maupun terhadap anak secara cukup lama. Menurut beberapa penelitian (seifert & Hoffnung, 1991), tekanan-tekanan psikologis yang dialami oleh keluarga bisa membuat mereka stress sampai 2 atau 3 tahun.
Kondisi dan iklim kehidupan yang kurang harmonis diatas pada akhirnya bisa berdampak lebih jauh terhadap pembentukan perilaku dan pribadi anak. Suatu studi longitudian yang dilakukan oleh Wallerstein’s pada tahun 1987 (Seifert & Hoffnung, 1991) terhadap sekelompok anak yang mengalami perceraian orangtua disaat mereka berusia antara enam dan delapan tahun menunjukan bahwa setelah sepuluh tahun perceraian terjadi, anak-anak masih dihantui rasa takut dalam berhubungan cinta, harapan hidup yang rendah, dan rasa tidak berdaya. Bila disbanding dengan anak-anak yang lebih muda atau yang lebih tua disaat perceraian orangtua terjadi, kelompok anak ini memperhatikan kecenderungan yang lebih rendah dalam fungsi-fungsi internal (integrasi psikologis, stabilitas, emosi, ketangguhan struktur defensive perkembangan realitas), kompetensi sekolah, dan dalam hubungan sosial. Selain itu, kelompok anak tersebut sering menutupi ketidak bahagiaan mereka tentang hubungan masa kini dan masa yang akan datang dengan memeperlihatkan konformitas terhadap harapan – harapan sosial.
Meskipun perceraian itu lajimnya melahirkan sejumlah persoalan yang dilukiskan diatas , namun hal itu tidak selamanya berpengaruh negatif terhadap anak. Menurut Santrock & Yusen (1992), ada peristiwa-peristiwa perceraian yang dapat melepaskan anak dari kehidupan keluarga yang penuh konflik, meskipun pada awalnya kebanyakan mereka mengalami stres yang berat dan berada pada kondisi yang risikan untuk mengembangkan masalah-masalah perilaku. Hal demikian lajimnya terjadi kalau perceraian itu sendiri membawa nuansa kehidupan baru yang lebih baik bagi anak.
BAB IV
PENUTUP
Keluarga merupakan tempat pertumbuhan dan perkembangan anak yang pertama di mana dia mendapatkan pengaruh dari anggota-anggotanya pada masa yang amat penting dan paling kritis dalam pendidikan anak, yaitu tahun-tahun pertama dalam kehidupannya (usia prasekolah). Sebab pada masa tersebut apa yang ditanamkan dalam diri anak akan sangat membekas, sehingga tak mudah hilang atau berubah sudahnya. Dari sini, keluarga mempunyai peranan besar terhadap pembelajaran anak Karena keluarga merupakan batu pondasi bangunan dan tempat pembinaan pertama untuk mencetak dan mempersiapkan peserta didik . Karena itulah peran keluarga dalam hal ini begitu berarti. Bahkan bisa dikatakan bahwa tanpa keluarga, nilai-nilai pengetahuan yang didapatkan di bangku meja formal tidak akan ada artinya sama sekali. Sekilas memang tampak bahwa peran keluarga tidak begitu ada artinya, namun jika direnungkan lebih dalam, siapa saja akan bisa merasakan betapa berat peran yang disandang oleh keluarga.
DAFTAR PUSTAKA
Wahab, Rochmat, dkk. 1998. Perkembangan dan Belajar Peserta Didik. Jawa Tengah : Dikti
Yusuf, Syamsu LN.2005. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.