The Nheroo's

Rabu, 04 Januari 2012

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENYIMAK NON SASTRA

PEMBAHASAN


A.       Pengertian Menyimak
Istilah mendengarkan, mendengar dan menyimak sering kita jumpai dalam dunia pengajaran bahasa. Peristiwa mendengar biasanya terjadi secara kebetulan, tiba-tiba dan tidak diduga sebelumnya. Karena itu kegiatan mendengar tidak direncanakan. Mendengarkan setingkat lebih tinggi tarafnya dari mendengar. Dalam peristiwa mendengarkan hal itu sudah ada. Faktor pemahaman biasanya juga mungkin tidak ada karena hal itu belum menjadi tujuan. Mendengarkan sudah mencakup mendengar. Di antara ketiga istilah teraf tertinggi diduduki istilah menyimak. Dalam peristiwa menyimak sudah ada faktor kesengajaan. Faktor pemahaman merupakan unsur utama dalam setiap peristiwa menyimak. Bila mendengar sudah tercakup dalam mendengarkan maka baik mendengar maupun mendengarkan sudah tercakup dalam menyimak.
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia dikemukakan bahwa “Menyimak adalah mendengarkan (mempertahankan apa yang diucapkan orang). Menyimak adalah latihan mendengarkan baik-baik.”

Menyimak menurut Tarigan (1985) adalah suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interprestasi, untuk memperoleh informasi, menangkap isi, serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan oleh pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan.

Menyimak menurut Tarigan (dalam Djuanda, 2008) adalah suatu proses yang mencakup kegiatan mendengarkan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menginterpretasi, menilai dan mereaksi atas makna yang terkandung di dalamnya.

Jadi menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan bunyi baik bunyi non bahasa dan bunyi bahasa dengan penuh pemahaman, perhatian, apresiasi, serta interprestasi, dengan menggunakan aktivitas telinga dalam menangkap pesan yang diperdengarkan untuk memperoleh informasi dan memahami isi yang disampaikan.

B.       Tujuan Menyimak
Tujuan utama menyimak adalah menangkap, memahami, atau menghayati pesan, ide, gagasan yang tersirat dalam bahan simakan. Tujuan menyimak menurut Djago Tarigan (dalam Djuanda, 2008) antara lain sebagai berikut.
1.        Mendapatkan Fakta
2.        Menganalisis Fakta
3.        Mengevaluasi Fakta
4.        Mendapatkan Inspirasi
5.        Menghibur Diri
6.        Meningkatkan Kemampuan Berbicara

Pengumpulan fakta dapat dilakukan melalui kegiatan penelitian, melalui membaca dan melalui menyimak. Peneliti mengumpulkan fakta melalui kegiatan penelitian. Orang terpelajar sering mendapatkan fakta melalui membaca. Dalam masyarakat tradisional dan masyarakat modern mendapatkan fakta melalui menyimak. Fakta yang diperoleh melalui kegiatan menyimak ini kemudian dilengkapi dengan kegiatan membaca atau mengadakan eksperimen.
Fakta yang telah terkumpul perlu dianalisis karena kaitan antar unsur fakta harus jelas. Proses analisis fakta ini harus berlangsung secara konsisten selama proses menyimak berlangsung.
Fakta yang disampaikan pembicara dapat diterima apabila sesuai dengan kenyataan, pengalaman dan pengetahuan penyimak. Sebaliknya bila fakta yang disampaikan kurang meyakinkan kebenarannya maka penyimak pantas meragukan fakta tersebut.
Adakalanya orang menghadiri jamuan tertentu bukan untuk mendapatkan fakta. Mereka memerlukan suntikan semangat atau inspirasi untuk pemecahan masalah yang mereka hadapi.
Beberapa penyimak datang menghadiri pertunjukan seperti bioskop dan pertunjukkan lawak untuk menghibur diri. Mereka menyimak untuk tujuan menghibur diri.
Tujuan menyimak yang terakhir adalah menyimak dengan tujuan untuk meningkatkan keterampilan berbicara. Penyimak memperhatikan beberapa aspek pada pembicara dan mempraktikannya.


C.   Jenis-Jenis Menyimak
                     Menurut Tarigan (dalam Djuanda, 2008) ada tujuh titik pandang yang digunakan sebagai dasar pengklasifikasian menyimak, yaitu:
1.        sumber suara
2.        taraf aktivitas penyimak
3.        taraf hasil simakan
4.        keterlibatan penyimak dan kemampuan khusus
5.        cara penyimak bahan simakan
6.        tujuan menyimak
7.        tujuan spesifik

              Berdasarkan sumber suara yang disimak, dikenal dua jenis nama penyimak yaitu :
a.       menyimak intrapribadi
Sumber suara yang disimak berasal dari diri sendiri, seperti merenungkan nasib diri dan menyesali perbuatan sendiri.
b.      menyimak antar pribadi
Sumber suara yang disimak berasal dari luar diri penyimak, seperti dalam percakapan, diskusi dan sebagainya.

Berdasarkan taraf aktivitas penyimak dapat dibedakan menjadi:
a.         Kegiatan menyimak bertaraf rendah
Pada kegiatan ini penyimak memberikan dorongan, perhatian, dan menunjang pembicaraan. Biasanya aktivitas itu bersifat nonverbal seperti mengangguk-angguk atau melalui ucapan-ucapan pendek seperti saya setuju, ya dan sebagainya. Menyimak taraf rendah ini dikenal dengan nama silent listening.
b.         Kegiatan menyimak bertaraf tinggi
Pada kegiatan ini penyimak dapat mengutarakan kembali isi bahan simakan. Hal itu menandakan bahwa penyimak sudah memahami isi bahan simakan. Menyimak taraf tinggi ini dikenal dengan nama active listening.

           Berdasarkan taraf hasil simakan, terdapat beberapa ragam, antara lain:
a.         Menyimak tanpa mereaksi : penyimak mendengar sesuatu, tetapi tidak memberikan reaksi apa-apa.
b.         Menyimak terputus-putus : penyimak tidak konsentrasi atau tidak terpusat pada bahan simakan.
c.         Menyimak terpusat : pikiran penyimak terpusat pada sesuatu, misalnya pada aba-aba, untuk mengetahui bila saatnya mengerjakan sesuatu.
d.        Menyimak pasif : menyimak pasif hampir sama dengan menyimak tanpa mereaksi, tetapi sudah ada reaksi walaupun sedikit.
e.         Menyimak dangkal : penyimak hanya menangkap sebagian isi simakan.
f.          Menyimak untuk membandingkan : penyimak menyimak sesuatu kemudian membandingkannya dengan pengalaman dan pengetahuan penyimak.
g.         Menyimak organisasi materi  : penyimak berusaha mengetahui organisasi materi yang disampaikan pembicara, ide pokoknya beserta detail penunjangannya.
h.         Menyimak kritis : penyimak menganalisis materi yang disampaikan pembicara.
i.           Menyimak kreatif  dan apresiatif : penyimak memberikan respons mental dan fisik yang asli terhadap bahan simakan yang diterima.
                  
                   Berdasarkan cara penyimakannya, menyimak dibagi menjadi dua ragam, yakni menyimak intensif dan menyimak ekstensif.
a.          Menyimak intensif
        Menyimak intensif adalah kegiatan menyimak dengan penuh perhatian dan ketelitian sehingga penyimak memahami bahan simakannya. Jenis menyimak seperti ini dibagi atas beberapa jenis, yaitu :
1)      Menyimak kritis, bertujuan untuk memperoleh fakta yang diperlukan. Penyimak menilai gagasan, ide, informasi dari pembicara dan memberikan tanggapan terhadap apa yang disampaikan pembicara.
2)      Menyimak introgatif, merupakan kegiatan menyimak yang menuntut konsentrasi dan pemusatan perhatian karena penyimak akan mengajukan pertanyaan setelah selesai menyimak.
3)      Menyimak penyelidikan, yaitu menyimak dengan tujuan menemukan. Contoh: seorang yang masih diduga telah mencuri sedang diselidiki oleh polisi dengan mengutarakan beberapa pertanyaan yang harus di jawab. Maka polisi melakukan menyimak penyelidikan saat sang tersangka menjawab pertanyaannya.
4)      Menyimak kreatif, mempunyai hubungan erat dengan imajinasi seseorang. Penyimak dapat menangkap makna yang terkandung dalam puisi dengan baik karena ia berimajinasi dan berapresiasi terhadap puisi itu.
5)      Menyimak konsentratif, merupakan kegiatan untuk menelaah hal yang disimaknya sehingga ide dari pembicara dapat diterima dengan baik.
6)      Menyimak selektif, yakni kegiatan menyimak yang dilakukan dengan menampung aspirasi dari pembicara dengan menyeleksi dan membandingkan hasil simakan dengan hal yang relevan.
b.         Menyimak ekstensif
Menyimak ekstensif adalah proses menyimak yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti menyimak radio, televisi, pengumuman, dan sebagainya. Pelaksanaannya tidak terlalu dituntut untuk memahami isi bahan simakan. Bahan simakan perlu dipahami secara sepintas, umum, garis besarnya saja atau butir-butir yang penting saja. Jenis menyimak ekstensif dapat dibagi empat:
1)      Menyimak sekunder, yaitu mendengar secara kebetulan, maksudnya menyimak dilakukan sambil mengerjakan sesuatu. Contoh : Rina sedang menyapu halaman tanpa sadar ia mendengar ibunya bercerita di teras dengan tetangganya.
2)      Menyimak estetik, yakni penyimak duduk terpaku menikmati suatu pertunjukkan misalnya drama, cerita, puisi, baik secara langsung maupun melalui radio. Secara imajinatif penyimak ikut mengalami, merasakan karakter dari setiap pelaku.
3)      Menyimak pasif, merupakan penyerapan suatu bahasa tanpa upaya sadar yang biasanya menandai upaya penyimak. Contoh : Tukang Becak yang biasa mengantar turis secara tidak langsung pandai berkomunikasi menggunakan bahasa asing.
4)      Menyimak sosial, berlangsung dalam situasi sosial, misalnya orang mengobrol mengenai hal-hal menarik perhatian semua orang dan saling menyimak satu dengan yang lainnya, untuk merespon yang pantas, mengikuti bagian-bagian yang menarik dan memperlihatkan perhatian yang wajar terhadap apa yang dikemukakan atau dikatakan orang.

              Ada enam macam ragam menyimak berdasarkan tujuan menyimak, yakni:
a.         Menyimak sederhana
Menyimak sederhana terjadi dalam percakapan dengan teman atau percakapan melalui telepon.
b.         Menyimak deskriminatif
Menyimak untuk membedakan suara atau perubahan suara. Contoh: orang yang marah mengeluarkan nada suara yang berbeda dengan orang yang sedang bergembira.
c.         Menyimak santai
Menyimak untuk tujuan kesenangan. Contoh: menyimak film, drama dan sebagainya.
d.        Menyimak informatif
Menyimak untuk mencari informasi. Contoh: menyimak siaran berita, menyimak pengumuman, dan sebagainya.
e.         Menyimak literatur
Menyimak untuk mengorganisasikan gagasan. Contoh: membahas hasil penemuan.
f.          Menyimak kritis
Menyimak untuk menganalisis tujuan pembicara. Contoh: dalam debat terbuka, ada dua pihak yang saling meminta kebenaran atas topik yang dibahas.

              Ada tujuh ragam menyimak berdasarkan tujuan khusus, yaitu sebagai berikut:
a.         Menyimak untuk belajar
Melalui kegiatan menyimak seseorang mempelajari berbagai hal yang dibutuhkan. Contohnya: siswa yang menyimak penjelasan guru.
b.         Menyimak untuk menghibur
       Penyimak menyimak untuk menghibur dirinya. Contohnya: menyimak film, drama komedi, dan sebagainya.
c.         Menyimak untuk menilai
       Penyimak mendengarkan dan memahami isi simakan kemudian mengkaji, menguji, dan membandingkan dengan pengalaman dan pengetahuan penyimak. Contoh: menyimak fakta yang disiarkan di berita TV.
d.        Menyimak apresiatif
       Penyimak memahami, menghayati, mengapresiasi materi simakan. Contoh: menyimak pembacaan puisi, cerpen, drama, dsb.
e.         Menyimak untuk mengomunikasikan ide dan perasaan
       Penyimak memahami, merasakan gagasan, ide, dan perasaan pembicara. Contoh: orang yang sedang mendengarkan curahan hati sahabatnya.
f.          Menyimak deskriminatif
       Menyimak untuk membedakan suara atau bunyi. Contoh: perbedaan suara orang yang sedang bergembira dan orang yang sedang marah.
g.         Menyimak pemecahan masalah
       Penyimak mengikuti uraian pemecahan masalah secara kreatif dan analitis yang disampaikan oleh pembaca. Contoh: seorang psikolog yang mendengarkan keluhan pasiennya dan berusaha memberikan solusi terhadap masalah pasien tersebut.



A.      Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Menyimak
Menurut Sastragunawan (2003), dalam kegiatan menyimak, terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan menyimak yaitu:
1.      Faktor pembicara
2.      Faktor penyimak
3.      Materi yang dibicarakan
4.      Faktor situasi

Pembicara yang baik diharapkan memenuhi persyaratan – persyaratan berikut:
a.         Pembicara harus menguasai materi yang akan disampaikan. Bila tidak menguasai pembicaraan akan tersendat-sendat. Hal ini jelas akan mempengaruhi  perhatian  penyimak. Diharapkan pembicara adalah orang yang betul-betul pakar dalam bidangnya. Misalnya dalam kegiatan pidato, seminar, dan sebagainya.
b.        Pembicara hendak selalu percaya diri dalam menyampaikan  materi . dia harus yakin bahwa materi telah dikuasainya. Bila ini terjadi, pembicara akan dapat tampil secara mantap dan menyakinkan pendengar.
c.         Pembicara harus berbicara secara sistematis. Materi harus disusun dan disampaikan secara sistematis. Sebab penyampaian yang sistematis akan memudahkan penyimak dalam mengikuti urutan  ide yang disampaikan.
d.        Bicara harus selalu  ada kontak dengan pendengar. Berbicara yang baik harus menghargai dan menghormati para penyimaknya. Bila penyimak merasa diperhatikan, minat untuk memperhatikan  pun akan lebih besar.
e.         Pembicara harus selalu berbicara dengan gaya menarik. Hal ini erat sekali kaitannya dengan sikap pembicara. Pembicara yang sikapnya kaku, dibuat – bua, membuat penyimaknya bosan dan kurang berminat untuk mendengarkan. Atau bahkan justru gaya dan tingkah pembicaralah yang diperhatikan bukan materi simakan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan kaitannya dengan faktor penyimak ialah:
a.         Kondisi penyimak-penyimak yang  baik harus berada dalam kondisi yang  baik. Maksudnya baik dari segi  fisik maupun mental. Orang yang sedang sakit, lelah, stres, dan tidak mungkin dapat menyimak dengan baik.
b.        Konsentrasi penyimak. Penyimak yang baik harus betul-betul memusatkan perhatian kepada materi yang disampaikan dan harus menghilangkan kebiasaan-kebiasaan jelek dalam menyimak.
c.         Penyimak harus  bertujuan dan berminat. Penyimak yang  baik harus mempunyai  tujuan, untuk apa ia menyimak. Apabila tujuan sudah jelas, biasanya ia akan betul-betul berminat  dalam  menyimak.  Kalau  minatnya  tinggi, konsentrsinya bagus, kemudian tujuan yang diharapkan mestinya akan tercapai dengai baik.
d.        Penyimak yang baik berpengalaman luas. Pengalaman disini dapat menyatukan hal-hal linguistik maupun non  linguistik. Berpengetahuan luas, kaya kosa kata, memahami gaya pembicara, perubahan mimik atau roman muka, cara mendefinisikan maksud pembicara, dan sebagainya.

Perlu kita pertimbangkan materi pembicaraan agar penyimak berminat  terhadap  materi  tersebut. Dalam memilih materi pembicaraan, pembicara harus mempertimbangkan hal - hal berikut.
a.         Materi harus aktual, maksudnya baru, hangat, dan sedang banyak dibicarakan orang. Hal ini akan menarik dan lebih meminati pendengar.
b.        Materi harus bermakna, artinya materi itu harus ada manfaatnya bagi penyimak. Maka dari itu maetri harus sesuaikan dengan siapa penyimaknya. Pendek kata materi harus berkaitan dengan pendengar.
c.         Materi harus sistematis, artinya materi yang akan disampaikan harus dirancang atau disusun dulu secara sistematis, kemudian penyampaiannya pun harus sistematis juga. Dengan demikian materi akan mudah dipahami oleh penyimak.
d.        Materi harus seimbang,  artinya materi yang dipilih atau disampaikan harus sesusai dengan tingkat kemampuan pendengar atau penyimaknya. Kalau materi terlalu rendah dan terlalu tinggi juga tidak akan menarik perhatian pendengar.

Situasi juga  mendukung keberhasilan menyimak seseorang. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
a.         Waktu proses menyimak berlangsung 
Waktu akan mempengaruhi keberhasilan menyimak, misalnya, pada pagi hari akan lebih baik daripada siang hari pukul 13.00, dan sebaiknya. Karena pada pagi hari kondisi masih segar, sedangkan pada siang hari kondisi sudah lelah. Lebih-lebih kalau materi tidak menarik, cenderung mengantuk.
b.        Sarana yang dipergunakan
Sarana meliputi ruangan tempat proses menyimak berlangsung dan perlatan yang mendukung proses berlangsungnya menyimak. Kalau bisa, ruangan harus memenuhi persyaratan penerangan, situasi udara, kebersihan, luas harus sesuai dengan banyaknya penyimak dan sebagainya. Sedangkan peralatan meliputi kondisi tempat duduk, pengeras suara, alat tulis, dan sebagainya.
c.         Suasana lingkungan
Keadaan lingkungan sekitar tempat berlangsungnya proses menyimak juga ikut membantu keberhasilan menyimak. Misalnya, suasana yang tenang akan lebih mendukung daripada suasana yang bising, seperti dekat pasar, dekat pabrik, dekat jalan besar, dan sebagainya.



B.       Meningkatkan Kemampuan Menyimak Siswa SD
Menurut Tarigan (dalam Djuanda, 2008) terdapat tujuh cara untuk meningkatkan kemampuan menyimak siswa, yaitu:
1.        Simak – Ulang Ucap
Teknik ini siswa harus menyimak apa yang diucapkan guru, setelah itu siswa harus mengucap ulang apa yang disimaknya. Model ucapan yang akan diperdengarkan harus diperdengarkan secara cermat oleh guru. Isi model ucapan dapat berupa fonem, kata, kalimat, ungkapan, kata-kata mutiara, peribahasa, dan puisi-puisi pendek. Model itu dapat diucapkan langsung atau direkam.
2.        Simak – Tulis (Dikte)
Simak – Tulis mirip dengan Simak – Ulang Ucap. Siswa menyimak apa yang dikatakan guru atau dari rekaman, kemudian siswa harus menuliskannya.
3.        Simak – Kerjakan
Teknik ini, mula-mula siswa menyimak apa yang diperdengarkan guru, kemudian siswa harus mengerjakan apa yang diperintahkan atau dikatakan dalam kegiatan menyimak tadi. Model biasanya berupa kalimat-kalimat perintah.
4.        Simak – Terka
Guru menyusun deskripsi suatu benda atau mainan yang siswa yang paling disukainya atau gambar foto tanpa menyebutkan bendanya. Deskripsi diperdengarkan kepada siswa. Siswa menyimak teks deskripsi dan harus menerkanya.
5.        Memperluas Kalimat
Guru menyebutkan sebuah kalimat. Siswa mengucapkan kembali kalimat tersebut. Kembali guru mengucapkan kalimat tadi. Kemudian guru mengucapkan kata atau kelompok kata lain. Siswa melengkapi kalimat tadi dengan kelompok kata yang disebutkan terakhir oleh guru. Hasilnya kalimat yang diperluas.
6.        Menyelesaikan Cerita
Kelas dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok beranggotakan 3-4 orang. Guru memanggil anggota kelompok pertama maju ke depan kelas. Yang bersangkutan disuruh bercerita, judul bebas. Setelah siswa pertama selesai bercerita seperempatnya misalnya, siswa kedua anggota kelompok itu harus meneruskan cerita temannya yang pertama tadi, terus sampai anggota kelompok selesai kebagian giliran. Siswa yang belum ke depan harus menyimak dengan baik, sebab ada kemungkinan giliran jatuh kepada orang yang tidak menyimak. Siswa harus siap meneruskan cerita.
7.        Membuat Rangkuman
Siswa menyimak cerita atau teks nonsastra yang agak panjang. Setelah itu siswa diharuskan membuat rangkuman apa yang telah disimaknya tadi. Apa yang disimak harus dirangkum menjadi sesingkat mungkin, tapi yang singkat itu tetap menjelaskan yang panjang.


C.      Meningkatkan Kemampuan Menyimak Non Sastra
1.         Pengertian non sastra
Non sastra merupakan karya di luar sastra, seperti denah, pengumuman, petunjuk pemakaian dan sebagainya. Pada sastra bahasa yang digunakan adalah bukan bahasa sehari-hari, sedangkan untuk non sastra menggunakan bahasa yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu non sastra merupakan karya tulis yang tidak menuntut adanya keindahan dalam isi dan ungkapannya. Untuk non sastra pada siswa SD biasanya menggunakan bahasa sehari-hari yang dimengerti siswa.

2.         Contoh-contoh non sastra
a.         Pengumuman
Pengumuman merupakan pesan atau informasi yang disampaikan kepada umum. Tujuan adalah untuk menyampaikan sesuatu agar dapat diketahui oleh umum atau masyarakat.
Contoh


Pengumuman
Telah hilang sebuah tas sekolah berwarna hitam milik Lala Kumala, siswa kelas IV. Siapa saja yang menemukannya harap menghubungi Bapak Rustam Efendi di ruang guru, pukul 12.00.


Jakarta, 25 Desember 2008

                                                                        Rustam Efendi

b.      Denah
Denah merupakan gambar yang menunjukkan lokasi atau bagian dari suatu tempat. Tujuannya adalah untuk memberikan petunjuk lokasi dari suatu tempat.
Contoh:
                                                                                          
                                                                                                                 U

                                                                                                B                                T

                                                                                                                 S


3.      Cara meningkatkan kemampuan non sastra
a.         Dengan menjawab pertanyaan
Guru mempersiapkan bahan simakan. Isi bahan simakan harus disesuaikan dengan kemampuan siswa. Kemudian siswa menjawab pertanyaan dari guru mengenai bahan simakan.
b.        Dengan permainan seperti tebak-tebakan
Guru memberikan gambaran dari bahan yang akan dijadikan simakan siswa. Guru memberikan kata kunci mengenai bahan simakan. Setelah itu siswa menebak apa yang dimaksudkan oleh guru.
Menurut Djuanda (2008) ada beberapa macam permainan yang dapat digunakan untuk pembelajaran menyimak. Beberapa contoh di antaranya sebagai berikut.
1.        Bisik Berantai. Permainan ini dilakukan dengan cara, setiap siswa harus membisikkan suatu kata (untuk kelas rendah) atau kalimat atau cerita (untuk kelas tinggi) kepada pemain berikutnya. Terus berurut sampai pemain terakhir. Pemain yang terakhir harus mengatakan isi kata atau kalimat atau cerita yang dibisikkan. Betul atau salah? Bila salah, di mana atau siapa yang melakukan kesalahan. Permainan ini dapat dilombakan dengan cara berkelompok.
2.        Kim Lihat (Lihat Katakan). Sediakan beberapa benda, atau sayuran, atau buah-buahan dalam suatu kotak tertutup. Siswa berkelompok. Seorang siswa anggota kelompok harus melihat satu benda yang ada di dalam kotak. Setelah dilihat jelas, siswa tersebut harus menjelaskan sejelas-jelasnya kepada kelompoknya baik cirri-cirinya, rasanya, warnanya atau apa saja yang dapat dilihatnya. Anggota kelompok yang lain harus mengambil benda yang dijelaskan oleh siswa yang melihat tadi. Kelompok yang paling banyak mengambil benda dalam kotak, itulah yang menang.
3.        Cerita berantai. Permainan ini dilakukan berkelompok dua orang. Setiap kelompok harus melanjutkan cerita yang diucapkan kelompok lain. Cerita mulai dari guru. Anggota kelompok yang satu sebagai pembicara melanjutkan cerita, yang seorang lagi mencatat kalimat yang diucapkan setiap kelompok dan membacakannya setelah cerita selesai.
4.        Siap Laksanakan Perintah. Permainan ini bermain melalui lagu. Siswa dibagi beberapa kelompok. Setiap kelompok harus mengganti lirik lagu “Suka Hati” dengan perintah yang harus dikerjakan oleh kelompok lain.













BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan bunyi baik bunyi non bahasa dan bunyi bahasa dengan penuh pemahaman, perhatian, apresiasi, serta interprestasi, dengan menggunakan aktivitas telinga dalam menangkap pesan yang diperdengarkan untuk memperoleh informasi dan memahami isi yang disampaikan. Tujuan menyimak antara lain untuk mendapatkan fakta, menganalisis fakta, mengevaluasi fakta, mendapatkan inspirasi, menghibur diri dan meningkatkan kemampuan berbicara. Jenis-jenis menyimak antara lain sumber suara, taraf aktifitas menyimak, taraf hasil simakan, keterlibatan penyimak dan kemampuan khusus, cara penyimak bahan simakan, tujuan menyimak, dan tujuan spesifik. Faktor yang mempengaruhi keberhasilan menyimak antara lain faktor pembicara, materi pembicaraan, faktor penyimak, faktor situasi. Cara meningkatkan kemampuan menyimak di SD antara lain simak – ulang ucap, simak – tulis (dikte), simak – kerjakan, simak – terka, memperluas kalimat, menyelesaikan cerita dan membuat rangkuman. Cara meningkatkan kemampuan non sastra yaitu dengan cara menjawab pertanyaan dan dengan cara permainan.

B.       Saran
Guru hendaknya dapat memahami keterampilan menyimak agar dapat memberikan pembelajaran yang efektif dalam upaya meningkatkan kemampuan menyimak siswa.
                       


 DAFTAR PUSTAKA

Djuanda, Dadan. (2008). Pembelajaran Keterampilan Berbahasa di SD.       Bandung: Pustaka Latifah
Mulyati, Yeti. (2007). Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Tinggi. Jakarta : Universitas Terbuka.
Sutari, Ice, dkk. (1997). Menyimak. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sastragunawan, Aang, dkk. (2004). Pendidikan Keterampilan Berbahasa. Cirebon: STAIN Cirebon.
Tarigan, Henry Guntur. (1986). Menyimak. Bandung : Angkasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar